.::. #Welcome New Normal# .::.

Halaman Berita

General Ship Agent dan Industrial Fuel Marketing

Industri Migas Perlu Pemimpin Mumpuni di Era Ketidakpastian

Tanggal : 09-06-2020

PT. Harum Bumi Mandiri, Jakarta Di era ketidakpastian yang terjadi saat ini, industri migas global dinilai memerlukan kepemimpinan yang mumpuni dalam menghadapi situasi yang ada.

Ini juga yang berlaku pada BUMN Energi PT Pertamina. BUMN ini dinilai membutuhkan kepemimpinan yang berkompetensi mumpuni, sehingga mampu membawa perusahaan menjadi perusahaan yang disegani di dunia.

Seperti diketahui, Pertamina akan mengelola Blok Rokan, kontributor produksi nomor dua terbesar minyak nasional setelah Blok Cepu di 2021.

"Permasalahannya kelas dunia, untuk itu perlu leader di Pertamina yang bisa melihat teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasinya. Leader-nya memang perlu mengetahui politik, tapi juga harus menguasai teknologi yang dibutuhkan," kata Tutuka Ariadji, Guru Besar Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung, di Jakarta, Kamis (4/6/2020).

Dia mengatakan, Pertamina akan menghadapi permasalahan teknis kelas dunia seiring masuknya Blok Rokan. Pasalnya, Lapangan Minas memiliki permasalahan teknis kelas dunia.

Tutuka menegaskan pimpinan yang dibutuhkan Pertamina adalah yang bisa membawanya menjadi perusahaan kelas dunia karena masalah yang dihadapi juga kelas dunia.

"Kalau dari sisi manusia Indonesia saya yakin punya reputasi yang baik, sekarang masalahnya di manajemen," kata Tutuka.

Sementara itu Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menambahkan Pertamina membutuhkan sosok yang unik, tidak hanya pintar tapi juga mengerti. Salah satu standar utama adalah kompetensi yang mumpuni dan harus bisa diterima dan berkomunikasi dengan banyak pihak.

"Paling tidak bisa berkomunikasi dengan Kementerian ESDM, BUMN, Keuangan dan yang lebih unik bisa komunikasi dengan DPR," kata Komaidi.

Menurut Julius Wiranto, Deputi Operasi SKK Migas, pimpinan di hulu migas termasuk di Pertamina, tidak hanya harus mengerti soal teknis, tapi juga kemampuan adaptif dalam suatu kasus. Tidak hanya mementingkan sektor saja, tapi harus melihat lebih luas lagi.

"Butuh sosok yang bisa melihat jangka panjang. Lebih makro akan lebih survive. Jadi harus mempunyai kemampuan prediksi ke depan," jelas dia.

Menurut Julius, Pertamina memiliki banyak anak usahanya, yang sebagian pimpinannya akan memasuki masa pensiun. Namun usia pensiun tidak berarti tidak produktif lagi.

"Kita harusnya trust pada next generation. Itu yang diperlukan ke depan. Yang masuk masa pensiun itu tetap dibutuhkan, khususnya dalam memberikan saran-saran," jelas dia.

Dia menambahkan Pertamina merupakan perusahaan besar dan BUMN. Semakin tinggi posisi, CEO atau direksi harus punya wawasan yang lebih luas, tidak hanya teknis saja. Karena mau tidak mau berhubungan dengan nonteknis.

"Idealisme yang kuat di teknis bisa terkalahkan dengan soal lain. Untuk itu harus berani. Pertamina itu plat merah, kalau terlalu idealis, bisa mati juga. Jadi leader di Pertamina tidak hanya harus pintar, tapi pintar-pintar," kata Julius.

Seperti diketahui, Kementerian BUMN berencana menggelar RUPS Pertamina. Namun jadwal untuk RUPS belum diketahui pasti. Terkait dengan rencana RUPS PT Pertamina (Persero), harus dijadikan momentum untuk memilih figur baru direktur hulu Pertamina. Apalagi industri migas saat ini menghadapi triple shock.

Tercatat, beberapa dirut anak usaha hulu Pertamina akan memasuki pensiun yaitu Dirut PT Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Bambang Manumayoso, dan Direktur Utama PT Pertamina International EP Deni S Tampubolon.

Adapula Direktur Utama PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf telah pensiun per 22 Mei. Nanang selama ini bergulat sebagai pimpinan perusahaan di hulu. Dia memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dan diperlukan hulu, berpengalaman kerja di dalam dan luar negeri.

....